Sabtu, 23 Juli 2011

Beban Sejarah Bangsa Indonesia

Kalau dipikir lebih jauh, rasanya selama ini pengenyam pendidikan di Indonesia selalu dijejali dengan perihal soal Belanda dan masa penjajahannya di Indonesia di pelajaran Sejarah, IPS, dan apalagi PKn. Tanpa disadari semua hal yang dilakukan dengan sadar itu menjadi suatu beban sejarah yang ditanggung oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia. Seringkali--malah barangkali selalu--hal pertama yang muncul di kepala kita jika mendengar kata Belanda atau Jepang adalah ya itu, penjajah. Atau sebaliknya. Hal pertama yang kita asosiasikan dengan kata penjajah adalah Belanda atau Jepang.

Kita bangsa Indonesia, dulu berhasil menggilas tuntas mimpi bangsa Belanda yang pernah memiliki plot seperti bangsa Inggris yang sudah membantai habis suku Indian dan Aborigin. Dulu berhasil merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Dulu berhasil mengguyur gersangnya masa penjajahan yang berlangsung selama 3,5 abad itu.

Kita bisa lihat dari hal ini bahwa masyarakat Indonesia, baik yg sekarang maupun lebih lagi yg terdahulu, punya imej khusus yang otomatis muncul soal Belanda, atau negara-negara mantan penjajah lainnya. Ketika mendengar kata Belanda, yang muncul adalah "Oh, penjajah." Dan ini juga berlaku sebaliknya.

Berawal dari pengalaman pribadi, muncullah sebuah filosofi yang lantas menyergap pikiran saya. Bagi kita, Belanda erat kaitannya dengan penjajah. Tetapi pernahkah bangsa Belanda yang sekarang itu sendiri mengait-ngaitkan bangsa kita dengan "bekas jajahan?"

Di sekolah-sekolah pun, pelajar di sana hanya diajari bahwasanya bangsa Belanda pernah ke Indonesia untuk melaksanakan perdagangan. Di sejarah Golden Age-nya Belanda, dikatakan bahwa berdirinya VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) adalah masa dimana zaman emas Belanda di mulai, namun hanya disebutkan bahwa hubungan dengan Indonesia pada masa itu hanyalah sebatas hubungan perdagangan belaka. Perdagangan budak atau slave trade disebutkan di bagian sejarah yang lain, yakni kekuasaan WIC (West Indische Compagnie) di wilayah Amerika Latin. Begitu VOC lumpuh, berakhirlah masa kejayaan Belanda, meski sepahnya ialah mereka meninggalkan kejamnya korupsi yang sekarang tak jarang terjadi di negeri ini.

Mengapa harus kita yang menanggung beban ini?

Bangsa Indonesia berhasil memenangkan yang namanya kemerdekaan dan mendapatkan wilayah yang sedemikian luasnya dibandingkan dengan Belanda. Tetapi mengapa beban itu harus kita yang menanggung? Padahal tidak banyak orang Belanda yang bahkan masih peduli dengan hal ini. Mengapa kita tidak bisa membiarkan itu dikenang sebagai sejarah dan mulai berpikir ke depan? Mengapa mereka yang kita kalahkan bisa maju dan bangsanya berkualitas, sementara kita hanya bisa terus-menerus menjadi bayangan?(AYA)

0 komentar:

Poskan Komentar

Selamat Datang di Blog KIR SMPN 115

Assalamualaikum Wr. Wb.

Selamat datang di Blog KIR SMPN 115 ini!
Silahkan melihat-lihat, dan apabila ingin mengirim kritik, saran, atau kontak dengan anggota KIR dan sebagainya, langsung komentar saja di chatbox atau kirim via e-mail ke:
kirsmpn115@gmail.com

Bisa juga join grup KIR SMPN 115 di facebook.

Demikian, dan selamat menikmati!

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Pembina dan PIKIR (Pengurus Inti Kir) thn. 2011

Seiring dengan pergantian tahun ajaran, struktur organisasi KIR kembali diperbaharui.

Susunannya adalah sebagai berikut:

Pembina:

1. Pak Sugeng Tamtama


Ketua:

Kresna Satya Prameswara

Wakil Ketua:

Nanda Girindratama

Sekretaris 1:

Garda Prima Yudha

Sekretaris 2:

Marsha Elfiandri Miloen

Bendahara 1:

Adhitia Rangga Ramadhani

Bendahara 2:

Joshia Reiner

Humas:

Akmal Hugo Prasetyo

Ekky Natanael Raja


Mudah-mudahan eskul KIR ini sekali lagi dapat berjalan dengan lancar dan mendapatkan prestasi yang membanggakan serta bermanfaat bagi orang banyak, amiin.

Banner Blog Kami

Gif Created on Make A Gif

Today

Article of the Day

This Day in History

Today's Birthday

In the News

Quote of the Day